Tuesday, 14 May 2013

Dibalik Semua Cerita "Antara Mereka dan Mereka" part 1

Sorry Guys,udah lama nih gak Posting lagi noNovel-an hehe.
Sekarang gwa mau Posting lagi nih no-Novel-an gwa Selamat membaca Yah...

  
          Di pagi sabtu bulan september itu,terlihat suasana alam yang begiiiiitu damai dan sejuk. Burung-burung pun terlihat sedang bernyanyi,bungapun tersenyum. Suasana alampun menular kepada jiwa Demas. Demas pun terlihat sangat bahagiaaa sekali. Mungkin saja di hati Demas masih ada serpihan Bahagia tentang cinta?
Demas mulai lekas pergi ke kamar mandi. Dan setelah itu pun Demas langsung sarapan pagi.
“Mah,nanti Demas pulangnya agak sorean yah!”
“Emang mau ada apa?”
“Sekarang Demas ada jadwal latihan Band, Mah”
“Oh gitu. Ya udah tapi jangan terlalu sore. Papah nanti Sore pulang.”
“Wah Papah pulang Mah? Ya udah nanti Demas atur waktunya. Demas Berangkat dulu. Asalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam” Ibu Demas.
            Demas sengaja di antar jemput oleh Sopirnya,agar tidak memboros waktu untuk ke sekolah,begitu juga untuk latihan Band. Di perjalanan menuju sekolah pun,Demas menerima telepon entah dari siapa.
“Ya Assalamualaikum?” Demas
“Wa’alaikumsalam Mas,nanti jadwal latihan kan jam 3,kita langsung aja setelah pulang sekolah. Gimana?” Amelda.
“Oke.. Oke.. Tar gwa kasih tau Rinal sama Rahman...”
“Sip... Tapi lu bawa kendaraan ga? Kalo bawa jemput gwa sama Julia. Biar gak ngaret...”
“Ya bawalah. Gwa juga sengaja minta di anterin sama sopir gwa. Biar kagak pulang dulu.”
“Oke.. Ya udah sampai nanti. Assalamualaikum.”
Setibanya Demas sampai di Sekolah,Rinal dan Rahman pun telah menunggu di depan gerbang Sekolah. Dan stelah itupun Demas langsung memberitahu Rinal Dan Rahman tentang hal yang tadi di bahas Demas dengan Amelda.
            Setibanya mereka di Kelas,Rinal,Rahman,dan Demas pun membuatkan sebuah lagu untuk bandnya itu. Dan kebetulan juga,guru yang akan mengajar ke kelas kita sedang sakit. Jadi itulah kesempatan mereka bertiga.
“Nal,kita bikin lagu aja lah? Mungpung gak ada guru. Biar ada kerjaan.” Rahman
“Ya udah judul lagunya apa?”
“Hm,apa ya? Ah ya udah judulnya “Air Mata Darah”. Temanya pengeceewaan. Gimana?” Demas.
“Ya udah lu buat aja dulu liriknya,terus lu setor ke kita.” Rinal.
Setelah demas lama membuatkan liriknya,akhirnya Demas pun menyelesaikan semua lirik lagu itu dengan cepat yang berjudul Air Mata Darah.
            Setibanya Bel istirahat,Rinal,Rahman,dan Demas pun seperti biasa membeli jajanan ke kantin sekolah mereka itu dengan teman-tean yang lainnya. Dan setelah itu mereka pun mencoba mencari nada-nada yang pas untuk lagu ciptaannya mereka tersebut. Mencari sebuah nada itu tidak sebentar,tapi dengan semangtnya,mereka pun menyelesaikan nada-nada yang pas untuk lagu itu cukup cepat.
“Haduh cape juga nih nyocokin nadanya. Lumayan nguras pikiran.” Rahman
“Ah lu Man segitu aja udah cape! Gimana kalu misalkan kita buat Album?” Demas
“Hehe,iya sih,tapi kan kita juga lagi proses ke pembuatan album.”
Mereka pun kembali masuk kelas dan melanjutkan belajar.
            Waktunya pulang sekolah. Yah itulan yang diinginkan Rinal,Rahman,dan Demas,karena mereka sudah tidak sabar untuk latihan band,dan juga memberitahukan lagu tersebut kepada Amelda dan Julia. Mereka bertiga pun lekas masuk ke mobil Demas dan langsung menjemput Amelda dan Julia untuk berangkat Latihan. Setibanya mereka di sekolah Amelda dan Julia,mereka pun cukup lama menunggu mereka berdua dan sampei akhirnya,sekolah mereka berdua pun bubaran.
“Sorry yah agak lama! Tadi gwa di kelas ada acara poto bersama dulu.” Julia
“Oh ya gak apa-apa. Ya udah masuk.” Demas.
Di perjalanan,Rinal pun langsung memberitahukan mereka berdua lirik lagu yang Rinal,Rahman,dan Demas Ciptakan.
“Nih Mel,lagu yang kita buat sewaktu di sekolah.” Rinal.
“Mana coba gwa mau lihat!” Amel.
“Wah dari liriknya keren banget nih. Nanti kasih tahu gwa sama Julia ketukannya gimana oke.” Amel
“Oke nanti aja di Studio.” Rahman.
            Setibanya mereka di Studio,Demas melihat brosur di papan informasi bahwa akan di adakannya audisi Musik.
“Eh Sob,liat deh infonya. Disitu tertulis akan di adakannya Audisi Musik. Band yang memenangkan juara Pertama akan mendapat kesempatan untuk menggung bareng MUSE di Wembley” Demas
“Yang Bener Lu?” Rahman
“Audisinya kapan?” Rinal
“Tanggal 30 November di Bandung” Demas
“Waah, ya udah kita daftar aja dulu. Menang ga menang itu Urusan Nanti” Julia
“Ok ok. Biaya pendaftarannya cuman 500 ribu. Kalo begitu Ayo patungan.” Demas.
Saking Optimisnya, mereka pun langsung mendaftarkan diri untuk ikut Audisi tersebut.
Rinal pun memberitahukan ketukan-ketukan lagunya itu. Sekalian menunggu giliran mereka untuk latihan Band. Amel dan Julia pun masih agak susah mencerna lagu itu,tapi mereka semua pun mengulik lagunya sewaktu mereka latihan band. Kebetulan Demas memesan jadwal latihan dengan durasi waktu 2 jam,supaya mereka bisa membagi waktu untuk mengulik lagu,mengkombinasikan musik,dan latihan biasa.
            Hari mulai gelap,matahari itu pun telah pergi entah kemana meinggalkan dunia. Mereka pun latihan band dari jam lima sore sampai jam tujuh malam. Walau mereka kemalaman untuk latihan,tetapi mereka tidak patah semangat untuk latihan bandnya. Apa lagi,mereka harus membawakan dua buah lagu ciptaan mereka dan satu buah lagu dari band papan atas lainnya untuk mengikuti kompetisi yang mereka ikuti.
“Ayo,sekarang giliran kita untuk latihan...” Demas
            Disanalah mereka memulai latihan untuk kompetisi nanti. Lagu Air Mata Darah dan lagu Berdiri Teman pun mereka perdalami. Sengaja mereka memberikan sedikit sentuhan aliran yang cukup rumit pada dua lagu tersebut,agar lagu tersebut tidak terdengar bosan oleh para Audien nanti.
“Sob,sekarang kita cobain tuh lagunya. Soal aramsmen yang kurang enak,itu belakangan aja. Sekarang.mah kita coba dulu aja dengan aransmen yang ini!” Rahman.
            Mereka pun latihan sampai hampir larut malam karena Studio bandnya itu penuh terus. Sesudahnya mereka latihan,tepatnya jam 20.00,mereka pun langsung pulang ke rumah masing-masing diantarkan oleh mobil pribadi Demas. Pertama Demas nganter Julia terlebih dahulu.
“Makasih Mas udah nganterin gwa. Kalian semua mau mampir dulu ga?” Julia
“Ah ga usahlah makasih. Lagian ini udah malem. Besok juga kita harus latihan lagi.” Amel
            Sesampainya julia di rumahnya,dia pun sempat merasa pusing. Memang,seorang julia mempunyai penyakit yang tidak pernah dia publikasikan kepada teman-temannya termasuk anak-anak dari Phantom terkecuali orang tuanya. Setibanya di ruang tamu,Julia pun langsung tergeletak jatuh dan meneluarkan darah dari hidungnya.
“Papah.papah,julia pingsan Pah!” Ibu julia yang begitu panik.
Kedua orang tua Julia pun harus membawa Julia ke Rumah sakit untuk di perikas lebih lanjut. Setelah sampai di RSUD terdekat,Julia pun langsung diperiksa. Dan katanya (Dokter) Menyatakan bahwa penyakit Julia yang di idapnya selama 1 tahun itu kambuh kembali.
“Hm Bu,Pak,penyakit ginjal anak ibu telah kambuh lagi.” Pak Dokter.
Ibu julia pun mulai terasa khawatir karena dengan membiarkan ginjal sang anaknya itu tetap sedemikian,maka Julia pun tak akan lama. Smentara belum ada orang yang cocok dengan ginjal Julia.
            Keesokan harinya Anak-anak Phantom tahu bahwa Julia masuk Rumah Sakit,mereka semua pun terpaksa mengundurkan jadwal latihan. Dan mereka semua pun langsung Menjenguk Julia. Setibanya di RSUD...
“Tante,gimana keadaan Julia sekarang?” Ujar Amel
“Lumayan,tapi sekarang Ibu belum cari siapa orang yang mau menolong atau yang rela mendonorkan ginjal pada Julia” Ibunya sambil menangis
“Ya sudah Bu,biar aku saja yang mendonorkan ginjal aku. Kebetulan Julia punya golongan darah yang sama dengan anu.” Rahman
“Lu serius Man?” Demas
“Iya gwa serius. Kita gak tega kan kalo lihat julia terus-terusan kayak gini?”
“Ya udah. Semoga cocok bro.”
            Mereka semua pun saling mendo’akan Julia dan Rahman. Ya mereka semua cuman memberikan Do’a dan Harapan saja kepada mereka berdua. Cukup lama kami menunggu dan mematung di ruang tunggu,akhirnya Rahman telah selesai pencabutan ginjalnya dan tinggal mengoperasikan kepada Julia. Kami melihat prosesi operasinya di kaca jendela besar di dekat ruang tunggu. Kami bersedih,haru,khawatir,dan juga kasihan melihat Julia. Tiga jam berlalu,Julia pun minta unutk di rawat di Rumahnya saja. Tapi di luar itu,ada yang tidak di ketahui oleh Rinal,Rahman,dan Demas. Yaitu permasalahan antara Julia dengan Teman sekelas mereka bertiga. Entah kenapa di Loby bawah,Hasanah teman sekelas Rinal cs pun beserta Ganknya pun datang dan langsuk mengolok-olok Julia yang dominan mempunyai permasalahan antara mereka.
“Haduh ini anak manja banget sih. Ngapain juga si Rahman mau-maunya ngedorong kursi rodanya dia.” Hasanah
“Jaga omongan lo ya Has!” Rahman yang terbawa emosi.
Demas yang sedang membicarakan hasil analisis operasinya dengan suster,tidak segan Demas pun langsung memisahkan Rahman.
“Heh Man udah dong jangan ke bawa emosi...” Demas
“Gimana gak emosi Mas? Dia udah ngatain Julia” Rahman
“Ya udah soal ini gwa yang tangani. Sekarang kalian masuk aja ke mobil. Nanti gwa nyusul.”
Setelah itu..
“Has,ada masalah apa sih sama Julia?” Demas
“Mas asal kamu tahu aja. Cewe itu udah merebut cowok gwe Mas!” Hasanah
“Hah. Cuman itu doang? Hasanah,hasanah,kamu tuh ya cuman gara-gara cowok di rebut aja udah emosian gak jelas,apalagi harga diri lo yang di ambil sama Julia?”
Demas begitu serius untuk memperbaiki jalan yang tidak benar.
“Denger Has,cowok itu bukan hanya Danu. Masih banyak di luar sana.” Demas
“Tapi Mas,apakah lo gak sakit kalaau pacar lo di rebut sama orang?”
“Yah kagak lah. Gwa tuh gak harus khawatir kalo soal kayak gitu.mah. Lagian nanti juga pacar gwanya aja yang Sadar diri lagi.” Demas
            Mereka berdua terus berbicara pangjang Lebar. Seperti halnya Kudanil yang sedang Menguap. Tapi di situ Demas tidak tinggal diam untuk memetulkan masalah tersebut.
“Mas,apa lo mau terus-terusan bela Julia atau membela gwa temen sekelas lo?” Hasanah.
“Asal tahu aja ya,kalian semua sudah menganggap gwa Kaka kalian semua. Kalian semua nilai diri gwa ini orang yang Bijak,penengah, Tapi apa kenyataannya,lo gak pernah sama sekali nurut omongan gwa. Sementara omongan gwa tuh udah terangkum di otak gwa untuk kebenaran kelas kita. Termasuk masalah ini”
“Tapi gak harus membela orang lain kan?”
“Emang,tapi kan Dia juga teman baru gwa Has. Apa boleh buat?”
“Munafik lo Mas. Ternyata lo lebih memilih Julia ketimbang kita”
Perdebatan mereka pun hampir tersimak oleh pelayat dan pasyien di RS itu.
“Dari tadi juga gwa udah mempertengah masalah kalian sama Julia. Tapi kaliannya aja yang gak mau sabaran.” Demas
“Ah udahlah Mas,gwa sama temen gwa gak mau lagi kenal sama Lo,termasuk Rahman dan Rinal beserta dua cewek ganjen itu” Hasanah
“Terserah. Tapi sebelumnya gwa berterimakasih pada kalian yang telah menilai gwa Positif waktu dulu.” Demas
“Gwa Cabut dulu yah...” Lanjutnya
            Menjelang sore,mereka pun langsung mengantarkan Julia kerumahnya. Dan menginap di rumah Julia agar dapat membantu Ayah dan Ibu Julia untuk mengurusnya. Memang masalah itu lebih baik di sselesaikan dengan cara Otak,bukan dengan cara Fisik. Jika seseorang menyelesaikan masalah dengan Fisik,kapan beresnya. Tapi kebalikannya menyelesaikan dengan cara Otak,dapat mudah beres. Tetapi tidak semua,seperti masalah yang di landa Julia dan Hasanah yang menyangkut Rinal,Rahman,dan Demas.