Sekarang gwa mau Posting lagi nih no-Novel-an gwa Selamat membaca Yah...
Di pagi sabtu bulan september itu,terlihat suasana
alam yang begiiiiitu damai dan sejuk. Burung-burung pun terlihat sedang
bernyanyi,bungapun tersenyum. Suasana alampun menular kepada jiwa Demas. Demas
pun terlihat sangat bahagiaaa sekali. Mungkin saja di hati Demas masih ada
serpihan Bahagia tentang cinta?
Demas mulai lekas pergi ke kamar mandi. Dan setelah
itu pun Demas langsung sarapan pagi.
“Mah,nanti Demas pulangnya agak sorean yah!”
“Emang mau ada apa?”
“Sekarang Demas ada jadwal latihan Band, Mah”
“Oh gitu. Ya udah tapi jangan terlalu sore.
Papah nanti Sore pulang.”
“Wah Papah pulang Mah? Ya udah nanti Demas
atur waktunya. Demas Berangkat dulu. Asalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam” Ibu Demas.
Demas
sengaja di antar jemput oleh Sopirnya,agar tidak memboros waktu untuk ke
sekolah,begitu juga untuk latihan Band. Di perjalanan menuju sekolah pun,Demas
menerima telepon entah dari siapa.
“Ya Assalamualaikum?” Demas
“Wa’alaikumsalam Mas,nanti jadwal latihan kan
jam 3,kita langsung aja setelah pulang sekolah. Gimana?” Amelda.
“Oke.. Oke.. Tar gwa kasih tau Rinal sama
Rahman...”
“Sip... Tapi lu bawa kendaraan ga? Kalo bawa
jemput gwa sama Julia. Biar gak ngaret...”
“Ya bawalah. Gwa juga sengaja minta di anterin
sama sopir gwa. Biar kagak pulang dulu.”
“Oke.. Ya udah sampai nanti. Assalamualaikum.”
Setibanya Demas sampai di Sekolah,Rinal dan
Rahman pun telah menunggu di depan gerbang Sekolah. Dan stelah itupun Demas
langsung memberitahu Rinal Dan Rahman tentang hal yang tadi di bahas Demas
dengan Amelda.
Setibanya
mereka di Kelas,Rinal,Rahman,dan Demas pun membuatkan sebuah lagu untuk bandnya
itu. Dan kebetulan juga,guru yang akan mengajar ke kelas kita sedang sakit.
Jadi itulah kesempatan mereka bertiga.
“Nal,kita bikin lagu aja lah? Mungpung gak ada
guru. Biar ada kerjaan.” Rahman
“Ya udah judul lagunya apa?”
“Hm,apa ya? Ah ya udah judulnya “Air Mata
Darah”. Temanya pengeceewaan. Gimana?” Demas.
“Ya udah lu buat aja dulu liriknya,terus lu
setor ke kita.” Rinal.
Setelah demas lama membuatkan
liriknya,akhirnya Demas pun menyelesaikan semua lirik lagu itu dengan cepat
yang berjudul Air Mata Darah.
Setibanya
Bel istirahat,Rinal,Rahman,dan Demas pun seperti biasa membeli jajanan ke
kantin sekolah mereka itu dengan teman-tean yang lainnya. Dan setelah itu
mereka pun mencoba mencari nada-nada yang pas untuk lagu ciptaannya mereka
tersebut. Mencari sebuah nada itu tidak sebentar,tapi dengan semangtnya,mereka
pun menyelesaikan nada-nada yang pas untuk lagu itu cukup cepat.
“Haduh cape juga nih nyocokin nadanya. Lumayan
nguras pikiran.” Rahman
“Ah lu Man segitu aja udah cape! Gimana kalu
misalkan kita buat Album?” Demas
“Hehe,iya sih,tapi kan kita juga lagi proses
ke pembuatan album.”
Mereka pun kembali masuk kelas dan melanjutkan
belajar.
Waktunya
pulang sekolah. Yah itulan yang diinginkan Rinal,Rahman,dan Demas,karena mereka
sudah tidak sabar untuk latihan band,dan juga memberitahukan lagu tersebut
kepada Amelda dan Julia. Mereka bertiga pun lekas masuk ke mobil Demas dan
langsung menjemput Amelda dan Julia untuk berangkat Latihan. Setibanya mereka
di sekolah Amelda dan Julia,mereka pun cukup lama menunggu mereka berdua dan
sampei akhirnya,sekolah mereka berdua pun bubaran.
“Sorry yah agak lama! Tadi gwa di kelas ada
acara poto bersama dulu.” Julia
“Oh ya gak apa-apa. Ya udah masuk.” Demas.
Di perjalanan,Rinal pun langsung
memberitahukan mereka berdua lirik lagu yang Rinal,Rahman,dan Demas Ciptakan.
“Nih Mel,lagu yang kita buat sewaktu di
sekolah.” Rinal.
“Mana coba gwa mau lihat!” Amel.
“Wah dari liriknya keren banget nih. Nanti
kasih tahu gwa sama Julia ketukannya gimana oke.” Amel
“Oke nanti aja di Studio.” Rahman.
Setibanya
mereka di Studio,Demas melihat brosur di papan informasi bahwa akan di
adakannya audisi Musik.
“Eh Sob,liat deh infonya. Disitu tertulis akan
di adakannya Audisi Musik. Band yang memenangkan juara Pertama akan mendapat
kesempatan untuk menggung bareng MUSE di Wembley” Demas
“Yang Bener Lu?” Rahman
“Audisinya kapan?” Rinal
“Tanggal 30 November di Bandung” Demas
“Waah, ya udah kita daftar aja dulu. Menang ga
menang itu Urusan Nanti” Julia
“Ok ok. Biaya pendaftarannya cuman 500 ribu. Kalo
begitu Ayo patungan.” Demas.
Saking Optimisnya, mereka pun langsung
mendaftarkan diri untuk ikut Audisi tersebut.
Rinal pun memberitahukan ketukan-ketukan
lagunya itu. Sekalian menunggu giliran mereka untuk latihan Band. Amel dan
Julia pun masih agak susah mencerna lagu itu,tapi mereka semua pun mengulik
lagunya sewaktu mereka latihan band. Kebetulan Demas memesan jadwal latihan
dengan durasi waktu 2 jam,supaya mereka bisa membagi waktu untuk mengulik lagu,mengkombinasikan
musik,dan latihan biasa.
Hari
mulai gelap,matahari itu pun telah pergi entah kemana meinggalkan dunia. Mereka
pun latihan band dari jam lima sore sampai jam tujuh malam. Walau mereka
kemalaman untuk latihan,tetapi mereka tidak patah semangat untuk latihan
bandnya. Apa lagi,mereka harus membawakan dua buah lagu ciptaan mereka dan satu
buah lagu dari band papan atas lainnya untuk mengikuti kompetisi yang mereka
ikuti.
“Ayo,sekarang giliran kita untuk latihan...”
Demas
Disanalah
mereka memulai latihan untuk kompetisi nanti. Lagu Air Mata Darah dan lagu
Berdiri Teman pun mereka perdalami. Sengaja mereka memberikan sedikit sentuhan
aliran yang cukup rumit pada dua lagu tersebut,agar lagu tersebut tidak
terdengar bosan oleh para Audien nanti.
“Sob,sekarang kita cobain tuh lagunya. Soal
aramsmen yang kurang enak,itu belakangan aja. Sekarang.mah kita coba dulu aja
dengan aransmen yang ini!” Rahman.
Mereka
pun latihan sampai hampir larut malam karena Studio bandnya itu penuh terus.
Sesudahnya mereka latihan,tepatnya jam 20.00,mereka pun langsung pulang ke
rumah masing-masing diantarkan oleh mobil pribadi Demas. Pertama Demas nganter
Julia terlebih dahulu.
“Makasih Mas udah nganterin gwa. Kalian semua
mau mampir dulu ga?” Julia
“Ah ga usahlah makasih. Lagian ini udah malem.
Besok juga kita harus latihan lagi.” Amel
Sesampainya
julia di rumahnya,dia pun sempat merasa pusing. Memang,seorang julia mempunyai
penyakit yang tidak pernah dia publikasikan kepada teman-temannya termasuk
anak-anak dari Phantom terkecuali orang tuanya. Setibanya di ruang tamu,Julia
pun langsung tergeletak jatuh dan meneluarkan darah dari hidungnya.
“Papah.papah,julia pingsan Pah!” Ibu julia
yang begitu panik.
Kedua orang tua Julia pun harus membawa Julia
ke Rumah sakit untuk di perikas lebih lanjut. Setelah sampai di RSUD
terdekat,Julia pun langsung diperiksa. Dan katanya (Dokter) Menyatakan bahwa
penyakit Julia yang di idapnya selama 1 tahun itu kambuh kembali.
“Hm Bu,Pak,penyakit ginjal anak ibu telah
kambuh lagi.” Pak Dokter.
Ibu julia pun mulai terasa khawatir karena
dengan membiarkan ginjal sang anaknya itu tetap sedemikian,maka Julia pun tak
akan lama. Smentara belum ada orang yang cocok dengan ginjal Julia.
Keesokan
harinya Anak-anak Phantom tahu bahwa Julia masuk Rumah Sakit,mereka semua pun
terpaksa mengundurkan jadwal latihan. Dan mereka semua pun langsung Menjenguk
Julia. Setibanya di RSUD...
“Tante,gimana keadaan Julia sekarang?” Ujar
Amel
“Lumayan,tapi sekarang Ibu belum cari siapa
orang yang mau menolong atau yang rela mendonorkan ginjal pada Julia” Ibunya
sambil menangis
“Ya sudah Bu,biar aku saja yang mendonorkan
ginjal aku. Kebetulan Julia punya golongan darah yang sama dengan anu.” Rahman
“Lu serius Man?” Demas
“Iya gwa serius. Kita gak tega kan kalo lihat
julia terus-terusan kayak gini?”
“Ya udah. Semoga cocok bro.”
Mereka
semua pun saling mendo’akan Julia dan Rahman. Ya mereka semua cuman memberikan
Do’a dan Harapan saja kepada mereka berdua. Cukup lama kami menunggu dan
mematung di ruang tunggu,akhirnya Rahman telah selesai pencabutan ginjalnya dan
tinggal mengoperasikan kepada Julia. Kami melihat prosesi operasinya di kaca
jendela besar di dekat ruang tunggu. Kami bersedih,haru,khawatir,dan juga
kasihan melihat Julia. Tiga jam berlalu,Julia pun minta unutk di rawat di
Rumahnya saja. Tapi di luar itu,ada yang tidak di ketahui oleh Rinal,Rahman,dan
Demas. Yaitu permasalahan antara Julia dengan Teman sekelas mereka bertiga.
Entah kenapa di Loby bawah,Hasanah teman sekelas Rinal cs pun beserta Ganknya
pun datang dan langsuk mengolok-olok Julia yang dominan mempunyai permasalahan
antara mereka.
“Haduh ini anak manja banget sih. Ngapain juga
si Rahman mau-maunya ngedorong kursi rodanya dia.” Hasanah
“Jaga omongan lo ya Has!” Rahman yang terbawa
emosi.
Demas yang sedang membicarakan hasil analisis
operasinya dengan suster,tidak segan Demas pun langsung memisahkan Rahman.
“Heh Man udah dong jangan ke bawa emosi...”
Demas
“Gimana gak emosi Mas? Dia udah ngatain Julia”
Rahman
“Ya udah soal ini gwa yang tangani. Sekarang
kalian masuk aja ke mobil. Nanti gwa nyusul.”
Setelah itu..
“Has,ada masalah apa sih sama Julia?” Demas
“Mas asal kamu tahu aja. Cewe itu udah merebut
cowok gwe Mas!” Hasanah
“Hah. Cuman itu doang? Hasanah,hasanah,kamu
tuh ya cuman gara-gara cowok di rebut aja udah emosian gak jelas,apalagi harga
diri lo yang di ambil sama Julia?”
Demas begitu serius untuk memperbaiki jalan
yang tidak benar.
“Denger Has,cowok itu bukan hanya Danu. Masih
banyak di luar sana.” Demas
“Tapi Mas,apakah lo gak sakit kalaau pacar lo
di rebut sama orang?”
“Yah kagak lah. Gwa tuh gak harus khawatir
kalo soal kayak gitu.mah. Lagian nanti juga pacar gwanya aja yang Sadar diri
lagi.” Demas
Mereka
berdua terus berbicara pangjang Lebar. Seperti halnya Kudanil yang sedang
Menguap. Tapi di situ Demas tidak tinggal diam untuk memetulkan masalah
tersebut.
“Mas,apa lo mau terus-terusan bela Julia atau
membela gwa temen sekelas lo?” Hasanah.
“Asal tahu aja ya,kalian semua sudah
menganggap gwa Kaka kalian semua. Kalian semua nilai diri gwa ini orang yang
Bijak,penengah, Tapi apa kenyataannya,lo gak pernah sama sekali nurut omongan
gwa. Sementara omongan gwa tuh udah terangkum di otak gwa untuk kebenaran kelas
kita. Termasuk masalah ini”
“Tapi gak harus membela orang lain kan?”
“Emang,tapi kan Dia juga teman baru gwa Has.
Apa boleh buat?”
“Munafik lo Mas. Ternyata lo lebih memilih
Julia ketimbang kita”
Perdebatan mereka pun hampir tersimak oleh
pelayat dan pasyien di RS itu.
“Dari tadi juga gwa udah mempertengah masalah
kalian sama Julia. Tapi kaliannya aja yang gak mau sabaran.” Demas
“Ah udahlah Mas,gwa sama temen gwa gak mau
lagi kenal sama Lo,termasuk Rahman dan Rinal beserta dua cewek ganjen itu”
Hasanah
“Terserah. Tapi sebelumnya gwa berterimakasih
pada kalian yang telah menilai gwa Positif waktu dulu.” Demas
“Gwa Cabut dulu yah...” Lanjutnya
Menjelang
sore,mereka pun langsung mengantarkan Julia kerumahnya. Dan menginap di rumah
Julia agar dapat membantu Ayah dan Ibu Julia untuk mengurusnya. Memang masalah
itu lebih baik di sselesaikan dengan cara Otak,bukan dengan cara Fisik. Jika
seseorang menyelesaikan masalah dengan Fisik,kapan beresnya. Tapi kebalikannya
menyelesaikan dengan cara Otak,dapat mudah beres. Tetapi tidak semua,seperti
masalah yang di landa Julia dan Hasanah yang menyangkut Rinal,Rahman,dan Demas.